Refleksi: Iwan Fals, Sarjana Muda

 


Chydo Yamani.

 

Sarjana, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kaum cendikiawan; kaum cendikia-pandai; titel alumni perguruan tinggi yang merujuk pada status seseorang stelah dikukuhkan dalam sidang skripsi. Pada Saat itupula status sarjana dengan titel bidang ilmu yang diguluti kurang lebih empat sampai lima tahun berjalan. Maka disitulah seseorang bisa menumukan makna dari perjuangannya sendiri. Namun kata “perjuangan “ tak berakhir sebatas pada perguruan tinggi, sebab masih ada kehidupan lain yang lebih menantang setelah menjadi sarjana muda.

 Kata sarja mengingatkan kita pada seorang musisi legendaris yaitu Iwan Fals dan siapa yang tak mengenalnya. Musisi legendaris yang membumikan lagu-lagu dijagad Indonesia. Banyak lagunya berkisah tentang kehidupan yang carut marut pada masanya. Dia mencemooh pemerintah, perguruan tinggi, dan banyak deretan instansi lainnya, sampai pada kisah romantispun melalui musik. Karena Musik sebagai instrumen  menyampaikan pesan pada khlayak. Sebab musik adalah bagaian dari perlawanan yang dilakukan setiap pemusik di tanah air, dan Iwan Fals menjadi bagian utama dalam hal ini, untuk menggerakan hati nurani generasi muda pencinta musik.

Banyak generasi mudah ditanah air yang menjadi penggemar iwan Fals, sampai pada cara berpakain pun ala iwan falas. Seperti yang telah tersampaikan diatas, bahwa lagu-lagunya sangat mencemooh Institusi, dari jejeran lagu, sala satu diantaranya adalah Sarajana muda. Sepenggal  lirik lagunya, Engkau sarjana Muda resah mencari kerja, mengandalkan ijasamu, empat tahun lamanya, bergelut dengan buku, tuk jaminan masa depan. langkah kakimu berhenti didepan halaman sebuah jawatan.

Ini merupakan  sebuah refleksi dari lagu Iwan Fals tentang sarjana muda, dimana ruang hidup seperti peluang kerja sangat sempit. Kampus-kampus melahirkan banyak generasi mudah setiap tahun dengan jumlah yang kian melambung tinggi. 458 mahasiswa yang telah diwisudahkan oleh Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, (UMMU) pada kamis,2 Agustus 2018, belum lagi Unkhair, IAIN, STKIP dan deretan Kampus Swasta lainnya yang berada di Kabupaten Kota. kita bisa bayangkan, Misalnya dari banyak kampus di Maluku Utara, kita bisa mengambil 6 kampus sebagai representasi dengan jumlah mahasiswa 400 orang yang diwisudahkan. Ini berarti 2400 orang yang telah wisuda, kalau dikali dengan 2 jumlah telah naik mencapai 4800, Sebab, biasanya  dua kali dalam setahun kampus akan mewisudah mahasiwa.

Dari jumlah 4800 yang diwisudahkan, ini hanya menjadi contoh kecil dari deretaan kampus yang meyebar di Maluku Utara.  Ada kampus yang mewisudahkan diatas 400, dan adapula yang tak cukup  400. Namun penuruna angka tersebut hanya sebagian kecil kampus yang sedikit penghuninya. Dibandingkan kampus-kampus ternama di kota ternate yang lincah mewisudahkan mahasiswa dengan angka yang cukup jauh, sehingga menambah jejeran  daftar panjang pengangguran.

Dari contah kecil tadi, 4800 yang telah wisudah dari berbagai kampus, memiliki kecenderungan  ke Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tarulah 95% dari angka 4800, sisanya 5,05% yang menyebar diberbagai bidang pekerjaan lainnya yang bersifat statis. Hal demikian menjadi tantangan besar bagi pemerintah Republik Indonesia yang bersifat berkala. Sebab praktik wisuda selalu menjadi agenda tahunan bagi kampus-kampus yang ada. Dengan jumlah yang berubah-ubah, tapi ketika kita berasumsikan dengan angka kecil. maka tak menutup kemukinan angka tersebut menurun drastis, justru angka tersebut cenderung menaiki peringkat kelulusan.

Hal demikian, menjadi problem  bagi pemerintah untuk menciptakan peluang kerja, selain menjadi problem yang signifikan bagi pemrintah. Ini juga suda menjadi tanggunga jawab pemrintah untuk menyiapkan kuota agar menipis penganguran yang kian tinggi jumlahnya. Namun para sarjana muda tidak serta merta sepenuhnya mengantungkan nasib ke kepemerintah, seorang sarjana harus dengan kualitas pengetahuannya untuk meneropong peluang kerja lainnya.

 Seperti pada peluang kerja swasta, andaikan dengan jumlah yang terbilang tinggi di atas, semuanya mengadu nasib kepemerintah. Tentunya pemerinta pun akan mengalami kelabakan. Sebab pada pembukaan CPNS kuota yang tersediapun terbatas, karena yang diterima hanyalah yang dibutuhkan saja. Apalagi yang dibutuh hanya 1 atau 2 di setiap bidang ilmu, sementara pelamar mencapai ribuan orang yang melebihi kuota. Olehnya itu para sarjana dan calon sarjan sudah harusnya menentukan  pilihan sejak awal dengan membenahi diri serta sikap dan mentalitas.

Komentar