Tapin



Kita perna hidup di mana semuanya terbatas, dan keterbatasan itu menempatkan kita pada daftar terendah dalam perkembangan teknoloi.  Namun tak serta merta kita melupakan semuanya.  Lalu beranjak pada  dunia di mana semuanya tersedia dengan berbagi kelengkapannya. 

Namun, ada hanya sebatas  pada orang yang memiliki ekonomi mapan. Dan ada karena diadakan secara keterpaksaan, karena dorongan gaya hidup dan semuanya berjalan tak berimbang. sehingga menyebabkan ruang tapin terputus.

Keterputusan pada ruang sosial, seperti telah terputus hubungan sosial karena dikepung teknologi. Daerah pedesan nampak digilas, nilai dan norma tak lagi menjadi dasar pijak, manakala hubungan sosial itu tak lagi menyatu. Gaya hidup perkotaan diterapkan, sementara suasana pedesan  kian ditinggalkan, maka ada sesuatu yang hilang ketika cara seperti itu dipraktik kan . Terutama mereka yang menyandang status sebagai ibu rumah tangga. Sebab cara hidup yang serba cepat membuat orang mengejar ketertinggalan dengan memodifikasi ruang sosial tersebut. Ruang sosial bagi saya seperti ruang  publik yang dimaknai Habermas. Habermas  memaknai ruang publik karena  ada dialektika yang terbangun antara akademisi, sastrawan,dan aktifis yang memproduksi wacana.

Hal demikian ada kemiripan  ruang publik yang dimaknai Habermas dengan ruang sosial tapin dalam terminologi orang Makeang (dalam). karena tapin terjalin relasi sosial dan informasi yang berlangsung selama ini, dan belum terkontaminasi dengan corak hidup perkotaan. Setelah tapin menyatu gaya hidup perkotaan, ruang sosial itu berubah sejalan dengan berkembangnya teknologi. Dengan begitu keterputusan ruang sosial diikut serta tergesernya tapin secar sosial. Sebab yang tergeser bukan sebuah benda, terlihat oleh  mata, tapi sesutau yang menjadi habitus tak lagi dipraktik kan, disitulah  tapin sebagai rung sosial berubah.

Tapin atau ruang sosial

Tapin dalam terminolomgi orang makeang adalah tempat memproduksi kebutuhan rumah tangga. Menyediakan sarapan pagi hingga makan siang dan malam, disini aktifitas beralangsung dengan teknologi yang sederhana. Teknologi sederhana adalah tungku, menjadi keutamaan memproduksi keberlangsungan hidup sejak  belum “disusupi” teknologi.  Tungku, diapit tiga batu, atau batu bata saling menghadap dan diletakkan besi di atasnya dengan panjang tidak cukup semeter. Disitulah tungku  memiliki makna bagi masyarakat desa kala itu.

Dari tapin itulah merangkai semua perekonomian, saling keterhubungan satu diantara lainnya yakni kayu sebagai bahan bakar, sumur produksi air minum sebagai kebutuhan rumah tangga.  Dan peralatan tapin lainnya, semua berjalan dengan sederhana. Tapin juga memiliki makna filosfis diantaranya, dalam satu rumah tangga makan dan tidak, bisa dilihat dari naiknya asap dari tungku menuju sela-sela rumah. Ketika asap keluar dari atap rumah, itu menandakan bahwa satu rumah tangga sedang menyediakan santapan pagi atau siang bagi keluarga tersebut.

Selain naiknya asap ke atap rumah sebagai penanda, tapin juga tak bisa dibiarkan begitu lama  tanpa diasapi. Karena bisa membuat penyangga rumah lapuk, inilah makna tertentu yang dipahami masyarakat desa. Namun apakah tapin, yang kini diperhadapkan dengan perkembangan tekonlogi mengalami pergesaran secara struktural? Mungkin saja bisa ya, dengan asumsi bahwa kita telah dikepung dengan berbagai alat teknologi. Walaupun demikian masih sedikit orang mengandalkan tungku sebagai sarana untuk memproduksi kebutuhan rumah tangga. Tapi sebagian besar telah meninggalkan tungku dan beralih pada alat-alat yang begitu cepat.

Tapin (Dapur) menghadapi Modernisasi

Sejalan dengan perkembangan teknologi dewasa ini, konsep dapur memiliki makna yang fariatif berdasarkan tata bahasa setiap etnis. Misalkan tapin dalam bahasa makeang Dalam (Dapur) Makeang luar (Fito) Tidore (Hito), Ternate (Hito) Gamkonora ( Utul) Sanan Fahau disebut (Hit) Dapur, sementara sanana Fagudu menyebut Hitu, (Via WA, Minggu: 31/12/2017). Ada kemiripan konsep dapur dalam tata bahasa setiap etnis, namun dalam bahasa selalu ditempatkan pada konteks, namun tulisan ini bukan tata bahasa yang menjadi esensi yang ingin dijejajki.

Namun dalam  tulisan ini sejauh mana dapur mengalami modernisasi, dimana kita semua telah disuguhkan dengan sesuatu yang bersifat instan, bahkan mungkin orang lain pula tak mau ketinggalan yang namanya perkembangan tersebut. Segala bentuk berubah begitu cepat hingga pada kebutuhan rumah tanggapun, mengalami perubahan yang tak dihindari. Kita semua mengandalkan listrik pada era kekinian, ketika lampu padam semua aktifitas mengalami kemacetan, dari rumah tangga sampai birokrasi. 

Bahkan tapin dewasa ini telah mengalami modifikasi yang canggih, di sudut ruang tapin semuanya dipenuhi cok. Memanak nasi,air dan lainnya semua mengandalkan listrik, mungkin hanya kita sebagai subjek yang tak menggunakan cok. Disinilah tapin telah kehilangan ruang sosial sebagai pertukaran informasi bagi masyarakat kota. sebab dapur menjadi sala satu  harga diri dalam rumah tangga terutama perempuan. Mungkin karena ibu rumah tangga dengan kesibukan yang tinggi hingga semuanya melakukan demikian.

Sadar atau tidak perubahan itu telah terjadi, pada ruang sosial bagi kaum perempuan telah tergeser. Disudut-sudut kota taman dan temapat berkunjung lainnya dijadikan sebagi tempat pertukaran informasi. Dan ruang sosial sebenarnya kehilangan makna diera modernisasi seolah tempat kosong. Dan  hanya dipajang barang-barang mewah sebagai bentuk status sosial secara simbolik bagi ibu-ibu rumah tangga lainnya, ketika berkunjung dan menghampiri dapur. Maka yang menjadi pertukaran informasi adalah hanya pada barang-barang yang mewah ketika bola mata menagkap disudut ruang pada saat itu. Disinilah ruang sosial sebenarnya telah kehilangan makna diera modern.semoga(*)

catatan:  pernah terbit di Harian Malut Post

Komentar