Organisasi Dalam pandangan Sosiologi

Wisanggeni Yamani

Organisasi merupakan sebuah wadah atau tempat berproses dan menuangkan gagasan. Organisasi pula kerap membentuk pandangan hidup bersama.
Tujuan organisasi juga memiliki ciri khas tersendiri yang membuat suatu organisasi berbeda dengan lainnya. Organisasi juga merupakan struktur sosial yang memiliki komponen-komponen secara fungsional yang saling menyatu satu dianatar lainnya.
Organisasi juga bagian dari sistem, karena sistem menunjukan suatu bagian yang tak bekerja atau berfungsi dalam istilah Parsons ialah interdependensi. (J.Dwi Narwoko Dkk, 2004, 124)  maka organisasi tersebut akan mengalami kegoncangan. Menurut parsons kehidupan sosial itu harus dipandang sebagai sebuah sistem  (sosial). Artinya, kehidupan tersebut harus dilihat sebagai suatu keseluruhan atau totalitas dari bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling berhubungan satu sama lain, saling bergantung, dan berada dalam satu kesatuan. Kehidupan sosial  seperti itulah yang disebut dengan sistem sosial. (Ibid, 124).

   Jikalau suatu organisasi yang tak melewati tahapan seperti yang dijelaskan parsons, sudah barang tentu organisiasi tersebut tak bertahan lama dan akan mengalami perpecahan besar-besaran dan organisasi tersebut akan mengalami aliran yang berdasarkan pada pandangan hidup. Pandangan hidup ialah dasar dari epistemologi yang melahirkan  gagasan. Maka bagi saya dalam makala ini yang mau ditekan parsons ialah hubugnan kerjasama antara komponen-komponen secara totalitas menyatu dalam unit tertentu.
    Saling berhububgan, ketergantungan dan meyatu adalah yang ingin di sampaikan parsons, tatkala ia menganalisa masyarakat dengan memakai kerangka ilmu postifistik yang di tujukan pada organisme biologi.  Setiap organisme memili funsgsinya masing-masing, dan tatkala bagianya yang lain tak mampu bekerja maka bisa menyebabkan disfungsi. Dalam sistem sosial, bagi parsosn bisa memakai Skema AGIL untuk menjelaskan atau  membaca struktur masyarakat dalam kondisi masyarakat yang telah terjadi pembagian subsistem di dalamnya.
Hal yang  bisa di lihat adalah setiap subsistem berperan dalam fungsinya, misalkan skema AGIL yang di pakai adalah Adaption (A) adaptasi, merupakan suastu sistem yang mengatasi kebutuhan-kebutuhan mendasar yang bersifat situasional secara eksternal yang berada dilingkungan sosial masyarakat. Artinya organisasi harus mampu berdaptasi dengan kondisi atau hal-hal yang mendesak secara institusional.
Dalam kondisi sosial masyarakat, peran organisasi (ornop) nonpemerintah harus untuk selalu mengatasi kebutuhak mendesak yang di alami masyarakat. Misalkan ketika masyarakat mengalami krisis air bersih, maka tanggung jawab sosial (ornop) untuk membantu memecahkan masalah-masalah sosial yang di hadapi masyarakat tertentu.
Goal Attaimment (g) pencapaian tujuan, dalam suatu oragnisasi sosial, pemerintahan, pabrik, masyarakat, dan usaha kecil menegah (UKM) tentu semuanya berdasarkan perhitungan yang efesien. Misalkan dalam usahan menengah memiliki target perbulan dengan hasil pendapatan dan pengeluran sudah di kalkulasi secara efektif. Ketika target dan capaian tidak mencapai tujuan maka UkM tersebut harus mencari alternatif lain dengan maksud untuk menstabilkan usahanya.
Integrasion (I) integrasi, merupakan sitem yang menyatukan bagian atau komponen-komponen dalam suatu organisasi tersebut. Misalkan dalam struktur keorganisasian telah memiliki sub-sub sistem yang bekerja sesuai dengan fungsinya sendiri. Misalnya pada sub Sistem A, B,dan C memiliki tanggung jawab dan fungsi pokoknya (topoksi). Namun tidak serta merta  mengabaikan garis hirarkis secara struktural keorganisasian. Karena semunya telah di atur dalam konstitusi anggaran dasar anggaran rumah tangga (AD/ART).
Latency (L) latenci, merupakan suatu sistem pemeliharan pola, memperbaharui, atau menyediakan, memelihara pola-pola budaya yang menciptakan dan memotivasi kepada setiap individu dan kelompok dengan maksud merawat hubugan emosional. Hal demikian mislanya dalam sebuah organisasi. Ada pola-pola dan tradisi dalam organisasi untuk merawat hal-hal yang dianggap kebiasan. dalam suatu organisasi kemahsiswaan ada semacam pengakuan atau doktrinisasi yang menjadi landasan bagai mereka untuk mengikat hubungan sosial kelompok oragnisasi tersbut.
Parsons merancang skema AGILnya unutk menganalisa semua level dalam masyarakat . dalam sistem adaptasi untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkunagan sosial, demikian untuk mentarnsformasi pengetahuna ke wilayah eksternal. Sementara dalam sistem pencapainya ialah untuk mewujudkan misi keorganisasian dan menyatukan semua eleman subsitem yang mengikat lalu latenci merawat sumua pola-pola dalam keorganiasasian.

Komentar