Memburu Kenikmatan Tertangkap Polisi



Oleh: Rasyid L. Yamani
Pegiat Pilas Institute

Kenikmatan: Kata bermakna jamak. Ketika seseorang berucap kata tersebut, maka pernyataanya sesuai dengan kondisi yang dia alami disaat itu.  Dengan kondisi kenikmatan, layaknya  dia menggapai sesuatu pada puncak klimaks. Dengan begitu khayalan memanjakan pikirannya. Liar entah kemana, tapi itulah tipe orang dalam kondisi kecanduan narkoba.
Dengan menggunakan narkoba orang bisa tenang damai, bahkan banyak pendapat umum yang mengatakan mengkonsumsi narkoba masalah teratasi dengan mudah. Saya tidak percaya, karena narkoba merupakan zat yang bisa merusak syaraf dan memperkecil daya ingat seseorang, lalu membuatnya ketergantungan terhadap benda tersebut. Bahkan membuat kecanduan dan konsekuensi yang sangat fatal.
Sekali pun orang telah mengatahui hal tersebut, akan mengancam jiwa, tapi mereka tak memperdulikan. Karena faktor kenikamatan: banyak keuntungan dari hasil jualan dan kenikamtan disaat mengkonsumsi. Itu sebabnya barang tersebut tak bisa di jauhi, tapi apakah tak bisa di cegah? Tentunya hal yang mustahil untuk membenarkan. Denagn begitu peran dan tanggung jawab aparat kepolisian dan Badan Narkotikan nasional (BNN) sebagai penegak hukum yang paham benar salahnya ketika seseorang mengkonsumsi dan mengedar narkoba, jenis sabu-sabu, ganja, kokain dan lainnya harus di beri sangsi yang tegas sesuai dengan Undang-undang yang berlaku.
Nah, kalaupun hal demikian tidak, maka jaringan narkoba makin meluas dan mewabah dikalangan luas seperti PNS, Swasta, mahasiswa, tingkat SMA, Bahkan para penegak hukum sendiri pun menggunakan, dan masyarakat menengah kebawa. hal demikian telah terjadi lihat saja Hedlaine Malut Post bertajuk terancam penjara seumur hidup edisi sabtu 22 April 2017. Penjual ikan dan pengangguran tertangkap polisi karena melakukan perdagangan narkoba.
Sudah seharusnya ada langkah taktis  dari penegak hukum, setelah tertangkap dua pengedar narkoba yang hasil keterangan mereka barang tersbut di kirim dari jakarta melalui jasa pengeriman. Dan Sudah barang tentu menjadi bahan kajian untuk memutuskan mata rantai perdagangan narkoba yang kian marak di Maluku Utara dewasia ini. Dan kota ternate pada khususnya, yang mengancam hidup generasi mudah kelak nanti.
Alhasil, maraknya perdagangan narkoba karena faktor kenikmatan dari sisi pendapatan, konsumsi dan tekanan mental setiap individu, di karenakan kondisi ekonomi yang kian mencekik. Namun apakah yang di dapatkan dari hasil perdagangan adalah sesuatu yang benar? Sepenggal kalimat berupaya memaksa kita untuk menjawab, dengan kondisi ketimpangan ekonomi.
Ketimpangan  + ekonomi = penyimpangan
Berangkat dari asumsi dasar bahwa prilaku menyimpang disebabkan karena meningkatnya kebutuhan pokok dan akses kerja yang menyempit. Sehingga terdorong seseorang bekerja secar subsistem, untuk menghindari kemiskinan yang kian bersahabat dengan mereka berpendapatan rendah. Demikian mereka yang menganggur.
Andaikan kemiskina adalah hal yang nikmat, sudah barang tentu semuanya menginginkan.  Hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang  menyengsarakan hidup. Maka orang menghindarinya dengan cara bekerja serabutan demi kebutuhan dasar mereka. Namun yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena berbagai kebijakan yang tak objektif menbuat kemiskinan itu terlahir, seolah sebagai sekenario yang diciptakan. Ada dua hal yang perlu dilihat, antar kemiskina struktural dan kultural. Pertama ( Secara struktural terjadi kemiskan karena keterhubngan antara kebijakan pemerintah. Dan  kedua (kemiskinan kultural adalah akses sumber daya alam terhadap masyarakat terbatas karena faktor teknologi yang tidak dijama masyarakat.
Hal demikian menjadi perhatian kita bersama, terutama  pemerintah untuk mengurangi tingkat kemiskinan, dengan memberikan pemahaman secara memadai, agar masyarakat kita terhindar dari kemiskinan yang berantai. Setiap orang akan melakukan apa saja demi kelangsungan kebutuhan dasarnya, sekalipun dengan cara yang salah. Karena yang salah adalah pilihan hidup yang ditempuh, tapi itulah cara mereka menentukan hidup dalam kondisi ekonomi yang mengancam. Menjual narkoba, memangsa anak dibawa usia, perdagangan seks, dan membunuh sesama layaknya binatang karena ketimpangan ekonomi.
Itulah sekelumit problem yang terjadi akhir-akhir ini di Maluku Utara , namun tak sepatutnya kita saling menyalahi satu diantaranya, namun perlu disadari bahwa untuk menghindari  problem tersebut dengan mempehatikan potensi sumber daya alam yang meluas untuk memperbaharui dengan membuka akses yang mampu memproduksi komoditi masyarakat kita. Dengan begitu tersalurlah tenaga kerja produksi, di pabrik-pabrik lokal, maka masyarakatpun merasa percaya diri dengan keterbukan pekerjaan. Hal demikian akan memperkecil tingkat penyimpangan sosial yang selama ini terjadi di tengah masyarakat.
Ekonomi tak lepas pisah dari kebutuhan dasar manusia yang di penuhi, dengan tingkat pendapatan yang signifikan tinggi membuat seseorang merasa terpikat. Lalu dengan upayanya untuk memiliki sesuatu membuatnya merasa nikmat bagaikan dalam taman surgawi. Hidup dalam kelimpahan makanan dan minuman bahkan dikelilingin bidadari cantik.  Seolah bersetubuh dengan lawan jenisnya dan membuat mereka menjajakan dagangannya secara meluas demi kebutuhan hidup keseharian.
Beragam problem tengah terjadi di disekelingling kita, dan tak hanya terjadi di kalangan elit, bahkan masyarakat kelas menengah dengan mudah mengakses narkoba. Karena kuatnya relasi sosial dengan para pemilik barang tersebut mempermudah mereka dapatkan. Namun  ada hal yang aneh dalam pristiwa ini, mata rantai perdagangan narkoba kian marak tak  bisa di selesaikan oleh penegak hukum atau mengurangi.
Padahal substansi dari persoalan ini adalah dengan munutup akses masuknya barang haram tersebut, tak hanya rajiah tempat hiburan dan hotel. Namun bandara, pelabuhan sebagai akses masuk keluar setiap orang. Hal demikian di perhatikan dengan Fasilitas kecanggihan teknologi, yang mampu mendeteksi barang bawaan orang yang berhubungan dengan barang haram tersebut, dengan begitu memperkecil tinggkat peredaran narkoba, semoga.[]

Komentar