Predator Seks Dunia Pendidikan

       Predatoe Seks di Dunia Pendidikan

Oleh
 Rayid L Yamani
Pegiat Pilas Institut

Pendidikan merupakan tempat berproses demi pengembangan sumber daya manusia dan pembentukan prilaku sosial. Peran siswa dalam tuntutan pengetahuan di pendidkan formal adalah bagian dari proses menuju kedewasan, dan modal pengetahuan untuk jenjang pendidikan lebih tinggi sampai pada tahapan dunia kerja. Sebagai mana diamanatkan dalam konstitusi bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sangat jelas amanat konstitusi yang menitikberat pada pendidikan, demi kemajuan bangsa lewat generasi mudah yang berpotensi.  
Dalama dunia pendidikan sangat intes antara guru dan siswa karena ruang dialogis yang dibutuhkan. Lewat dialog kita bisa tumbuh melampaui diri kita yang terbatas sampai pada semacam universalitas ( Jean Grondin,2010, 28). Selain hal tersebut, ada pengetahuan lain yang disodorkan guru terhadap siswa yang di sebut dengan Cadangan pengetahuan (Stock Cnowledge,) yang menambah bekal dan kualiatas pengetahuan siswa untuk berkompetisi pada pendidikan dan dunia kerja. Sebab penting pengembangan kapasitas karena dituntut seseorang harus  kereatif.
Saling berbagi pengetahuan dalam dunai pendidikan formal sangat penting karena sifatnya tanggung jawab dan kewajiban antara siswa dan guru. Guru sebagai lokomotif pembelajan bagi siswa sekaligus inspiratif. Di sekolah Guru juga sebagai orang tua siswa, mengayomi, mendidik, dan menasehati, juga mentransformasi pengetahuan. Guru pun seorang yang bijak dan mahluk rasional, sebab dari gurulah siswa bisa menjadi apa saja dengan orentasinya, selain orientasi, kecerdasan seseorang juga menjadi ukuran dalam dunia kerja. Kenapa dunia kerja sangat berganutng pada pendidikan? karena sentral utama pendidikanlah yang menciptakan seseorang bisa masuk kedunia kerja dengan berkulaitas.
Predator seks
Konsep predator sangat sarat makna, dalam pengertian kamus ilmiah populer, kata tersebut ialah binatang memangsa binatang lain. Kata binatang berbeda dengan yang di pahami Aristoteles seperti hewan yang rasional. Hewan yang dimaksudnya ialah manusia itu sendiri, hewan adalah manusia dan manusia adalah rasional. Lantas bagaimana dengan prilaku subyek dalam dunia pendidika saat ini yang seperti sifat kebinatangan pada umumnya? Dunia pendidikan dewasa ini terkesan telah dihuni oleh mereka yang berprilaku bengis yang memangsa manusia lainnya.
Dunia pendidikan di Maluku Utara khususnya Kota Ternate pada kekinian telah mengalami kemerosotan moral setelah sala satu guru melakukan tindakan tak bermoral terhadap seorang siswi yang masi berada di bangku sekolah menegah pertama. Alhasil, kita kenal sosok guru adalah seorang yang bijak. Karena guru, kita semua bisa jadi apa saja sesuai orentasi kita masing-masing. Kita semua perna belajar pada guru-guru kita sejak SD,SMP,SMA, hingga pada pendidikan tinggi.
Mereka telah mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan dan pengetahuan, namaun setelah perkembangan dunia makin meluas. Informasi dan teknologi pun berubah lebar tak terbantahkan, ruang-ruang moralpun terkikis. Batas privat antara yang dewasa dan anak pun mulai menyatu. Dunia kini tak bisa dibedakan lagi seolah melebur menjadi suatu warna. Tempat suci, pendidikan, mobil seolah berubah menjadi area pencabulan.
Dunia pendidikan telah tercerabut dari esensi yang sebenarnya, prilaku bengis tak bermoral mewabah kedalam dunia pendidikan, lalu memangsa siswi yang tak berdosa. Seolah meminta sesuatu dari mereka tanpa ungkapan. Hal demikian tentunya membuat siswi menaruh anti pati kepada guru, dan keburukan prilaku akan menciptakan jarak di antara guru dan siswi, disebabkan rasa ketakutan, entah kenapa ketakutan itu terjadi. Karena seseorang tak mau mengalami hal yang sama terjadi kepada orang lain, dikarena hasrat  keinginan ingin memiliki seks. Ketakutan pun akan membuka ruang kebencian yang mendalam  terhadap orang lain, walupun orang tersebut tak berniat buruk. Karena sifat kewaspadaan selalu menjadi keutamaan setiap orang dalam berinteraksi dengan jarak  intim berdekatan.
Kedekatan juga akan dipersepsi sebagai kesempatan, untuk melancarkan aksinya demi kebutuhan apa yang menjadi keinginannya. Seolah tak peduli dengan konsekunesi bakal terjadi nantinya, ini lah logika keliru yang menjadi keputusan subyek. Hal demikian watak kebiadaban yang sifatnya memangsa lawan jenis yang menyebabkan mental siswa  terganggu, Dan  memudarnya institusi pendidkan.
Anak-anak yang menuntut pengetahuan pada pendididikan formal untuk menemukan sumber daya, bukan sebaliknya diperdayakan dengan cara tak manusiawi. membuat siswa dalam tahapan traumatik. Mungkin prilaku tak bermoral sudah saatnya diberantas dengan cara mengawasi kepada setiap orang yang bisa di curigai. Institusi pendidikan dan keluarag harus tetap waspada dan memberikan sosialisasi terhadap anak-anak. Agar selalu menjaga dirinya sehingga tak terjebak pada hal-hal yang tak diinginakan bersama.
Sifat kecurigan kepada setiap orang yang baru dikenal atau orang yang berada disekeliling kita juga penting. Tujuannya mengawasi gelagak mereka agar terhindar dari prilaku seseorang yang berasal dari dorongan dalam diri tersebut. Kuat dorongan dari dalam merupakan usaha seseorang untuk mencapai kepuasan yang diinginkan. Maka terjadilah predator seks terhadap siswi. [semoga]

Pernah diterbitkan di Harian Malut Post.

Komentar