Kesempatan dan Produksi Seksual

Wisanggeni Yamani
    Foto: Dok Pribadi.

Suatu tindakan tak lepas dari bagaimana seseorang memanfaatkan peluang dalam sebuah kesempatan.Oleh karena kesempatan bersifat kondisional sehingga sekali datang daya pikat untuk mewujudkannya pun tak terabaikan. Realisasi akan suatu kesempatan mengimplikasi nilai positif dan negative melalui ruang-waktu. Kedua faktor ini merupakana spek terpenting dimana terciptanya kenyataan sosial yang terus-menerus berlangsung.
Ruang social merupakan tempat dimana produksi aktivitas masyarakat berlangsung.Waktu menjadi kekuatan penuntun setiap aktivitas dimana orang memanfaat kesempatan untuk meraih kesuksesan, kepuasan, kenikmatan dan merekahkan suasana hati. Dengan begitu pemaknaan waktu sangat ditentukan oleh kondisi dimana seseorang bertindak sebaigamana dikatakan Martien Heideger, bahwa waktu bersifatnya suasana hati. Ketika suasana hati seseorang menjadi riang gembira ketika dia mendapat kesempatan. Misalkan dalam suatu waktu orang tersebut berpergian keluar kota atau bepergian kemana saja sesuai dengan suasana hatinya, ketika ia merasa damai dan bertahan pada suatu tempat dengan waktu yang relatif lama.
Ketika seseorang dalam keadaan salah, dia akan merasa takut, gelisah, sedih dan orang tersebut menemukan dirinya dalam keadaan keterlemparan kedunia penuh beban moral. Dengan begitu kenyamanan akan suasana hati diruang sosial sekejap ditelan waktu dan cenderung memunculkan keanehan-keanehan dalam bertindak. Maka disitulah letak subyek yang telah melakukan kesalahan, sebagai mana dia menemukan esensi dirinya sebagai manusia dengan tindakan abnormal. Tindakan seperti inilah yang membuat dirinya telah melewati batas tatanan nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari.
Pada perilaku  abnormal inilah yang membuat seseorang telah kehilangan kesadaran dan berada pada alam bawa sadar. Karena dorongan nafsu  yang membuat seseorang telah melakukan prilaku menyimpang dalam masyarakat. Tatkala kesempatan yang di dorong oleh tindakan yang berada diluar subyek maka hal tersebut telah memaksa seseorang melakukan ketimpangan moral. Daya dorong terjadi imoralitas ini juga erat hubungannya dengan rasa kegembiraan dan rasa senang berlebihan misalkan masalah korupsi adalah dorongan akan kesenangan untuk orang kaya. Begitu juga halnya dengan masalah seksual; kegairahan akan kenikmatan memandang keindahan tubuh wanita memberi dorongan libido, dan ketika kegembiraan kenikmatan ini tidak terpenuhi akan berdampak pada melakukan tindakan di luar dari norma sosial.
Kekuatan dorongan libido apa bila tidak ditekan dan produksi seksual tanpa batas tentu akan menjurus pada tindakan pemerkosaan terhadap kaum wanita. Kita sering menjumpai informasi-informasi di media-media lokal tentang pemerkosaan sering sekali terjadi. Harian Malut Post memberitakan seorang gadis berstatus mahasiswi di bidang perawatan, jurusan gizi di kota Ternate, menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang sopir angkut (Sabtu,6/2/2016. Hal.21). Hal yang sama terjadi di desa Soasangadji, kecamatan Maba Kabupaten Halmahera Timur (Haltim). Seorang ayah memperkosa anak tirinya yang masih berusia 14 tahun (Malut post, Rabu,28/12,2016,hal,2). Tindakan pemerkosaan yang sering kali terjadi merupakan daya imajinasi dalam produksi hasrat seksual dan pada tingkatan realisasi erat hubungannya dengan kesempatan pemanfaatan peluang dalam konteks ruang dan waktu.
Watak kegilan merupakan sesuatu bahaya yang bias merusak moralitas seseorang dan umat manusia pada umumnya khususnya kaum lelaki. Kegilaanyang dimaksud adalah kegilaan akan daya cipta seksualitas berlebihan. Akibat dorongan nafsu berlebihan dan gejala fluktuatif mental pikiran berakibatnya tak bisa melakukan penolakan terhadap tekanan libido tersebut. Maka terjadilah pencabulan karena kesempatan pada ruang serba sepih dan terjadilah bentuk produksi seksual dalam bentuk pemaksaan /pemerkosaan terjadi.
Persoalan pemerkosaan yang sering sekali terjadi disebabkan pelaksanaan tentang pendidikan seks belum mendapat perhatian serius sehingga kesadaran sosial terkait nilai kemanusiaan masih dilihat sebagai mencari jarum dalam gelap. Kesadaran untuk menekan hasrat libido tak akan teratasi, olehnya itu pendidikan seks perlu di genjot sebaik mungkin: baik lembaga pemerintahan, lembaga pendidikan, Universitas, LSM dan lembaga keagamaan memiliki peran penting jika transformasi sosial adalah tujuan utama kehidupan sosial.[]

Catatan: Artikel ini pernah dipublikasikan pada media  posko Malut: Rabu,08 febuari 2017

Komentar